“Ārāmāropā vanaropā, ye janā setukārakā;
Papañca udapānañca, ye dadanti upassayaṃ. Tesaṃ divā ca ratto ca, sadā puññaṃ pavaḍḍhati;
Dhammaṭṭhā sīlasampannā, te janā saggagāmino”ti.
“Menjaga hutan, taman atau perkebunan, membangun jembatan, tempat minum dan sumur, dan mereka yang memberikan tempat tinggal. Jasa mereka selalu tumbuh siang dan malam. Teguh dalam prinsip, sempurna dalam perilaku, mereka akan menuju surga”(Vanaropa Sutta, Samyutta Nikaya.1.47)
Perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi seluruh bangsa yang sangat berpotensi membawa kerusakan serius. Laman berita Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengutip hasil kajian ilmiah, riset dan penelitian, World Economic Forum dalam salah satu artikel berjudul The Global Risk Report 2019 menyimpulkan bahwa perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem.
Perubahan iklim sudah nyata dampaknya. Kenaikan suhu Bumi mulai mempengaruhi kehidupan manusia dan bencana alam semakin sering terjadi. Dengan proyeksi kenaikan suhu Bumi hingga 2,7 derajat celsius pada akhir abad ini, diperkirakan perubahan iklim makin mengancam kehidupan manusia di muka Bumi. Bahkan, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada April 2023 mulai mengkaji dampak perubahan iklim secara nyata terhadap hak pendidikan.
Oleh karena itu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), merilis Panduan Pendidikan Perubahan Iklim dalam giat yang bertajuk “Bergerak Bersama untuk Pendidikan Perubahan Iklim dalam Kurikulum Merdeka”. Panduan yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka ini diharapkan bisa membantu pemerintah daerah, sekolah, kepala sekolah, guru, orang tua, dan berbagai mitra pembangunan pendidikan dalam menerapkan pendidikan yang memperkuat kesadaran perubahan iklim dan berbagai langkah kolaboratif untuk menanggulanginya.
Demi mendukung penerapan gaya hidup yang ramah lingkungan dan mensukseskan program pemerintah dalam upaya mencegah dan mengatasi dampak perubahan iklim, SMPS Pelopor Mandau menggelar sebuah pelatihan yang bertajuk “Bergerak Bersama untuk Pendidikan Perubahan Iklim dalam Kurikulum Merdeka”. Dalam pelatihan yang digelar di Gedung Serba Guna Dhamasekkha pada hari Sabtu, tanggal 26 Oktober 2024 tersebut bertindak sebagai Narasumber adalah Bapak Berto Sitompul,S.Pd.Gr.
Dalam pelatihan tersebut, Guru Berto yang juga merupakan pendiri Bank Sampah Mengajar ( Basmenjar ) dan praktisi Ekopedagogi, membahas penyebab, dampak, aksi iklim, dan integrasi Pendidikan perubahan iklim ke dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler dalam Kurikulum Merdeka. Hal ini sangat sejalan dengan anjuran pemerintah melalui Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menyampaikan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menerapkan cara hidup yang ramah lingkungan untuk masa depan bumi dan lingkungan. Selain itu, penting untuk mempersiapkan generasi penerus untuk mengembangkan ekonomi hijau, yang saat ini telah menjadi salah satu sektor prioritas nasional.
Sekolah berharap melalui pelatihan ini para guru tenaga pendidik di SMPS Pelopor Mandau bisa memotivasi para peserta didik dan warga sekolah lain untuk selalu menjaga lingkungan alam sekitar kita untuk tetap lestari.
We are on earth to take care of life, we are on earth to take care of each other. - Xiye Bastida
We are the first generation to feel the impact of climate change and the last generation that can do something about it. - Barack Obama.